Bright Tuesday 7 : Budaya Antri

Seperti kita ketahui, masyarakat Indonesia termasuk salah satu manusia yang paling beruntung di dunia ini. Dibekali negara dengan keindahan alam yang luar biasa, potensi sumber daya yang berlimpah, sampai dengan kemajemukan masyarakatnya menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara dengan potensi besar untuk menjadi negara maju. Tapi ini bukan tanpa kekurangan, apa itu? Salah satu yang cukup mengganggu bagi saya pribadi adalah watak yang selalu ingin serba instan, yaa saya tidak menyalahkan mereka kebanyakan, karena saya pun demikian kadang wkwk. .

Tidak semua hal yang berbau instan itu jelek, ada beberapa hal yang dituntut memang harus cepat prosesnya, dalam mendapatkan hasil atau sasaran. Akan tetapi, dengan masifnya kemajuan teknologi, ditambah budaya instan yang masuk, saya merasakan ada perubahan budaya dalam tata hidup masyarakat indonesia. Dulu kita tahu, ada tepo sliro, ada unggah ungguh, di suku apapun, semua hal itu mereka pelajari dari moyang mereka, hanya mungkin penamaan saja yang berbeda. Apakah sekarang masih ada? Saya yakin masih, hanya saja terkadang tidak ada pembiasaan sehingga seakan kelihatan mengeliminir watak tersebut.

Contoh sederhana, mengantri? Mudah? Secara teori iya. Kita tinggal menunggu di barisan sampai tiba giliran kita. Prakteknya? Tidak semudah itu, bahkan saya sendiri pun masih melanggar kadang-kadang hahahaha. .   Tapi memang untuk hal seperti itu, saya anggap sebagai pelajaran yang harus di ajarkan orang tua kepada anaknya. Saking pentingnya, malah di luar negeri, mereka beranggapan, membiasakan mengantri pada anak jauh lebih penting dari mengajari matematika anak-anak mereka. Luar biasa sekali. Pernah suatu ketika, di suatu acara yang di adakan oleh sekolah anak saya, ada bagian acara yang mengharuskan agar antri karena ada pembagian oleh gurunya. Semua siswa berebut tanpa antrian, anak saya? Hanya kesal memandang teman-temannya yang saling berebut. Akhir acara, saya mendapat protes , kenapa teman-teman tidak ada yang mengantri? kenapa saya di haruskan mengantri, padahal teman-teman tidak? Mengapa, mengapa, mengapa dan mengapa. .

Saya hanya bisa membesarkan hati anak saya, sambil berdoa dalam hati, kelak itu akan berguna bagi kehidupanmu nak, dan semoga kamu menjadi pribadi yang luar biasa. Amiin.

Oleh : Hari Widiyanto

 

Formulir Komentar (Komentar baru terbit setelah disetujui Admin)